GenBI Piawai Membatik: Melestarikan Tradisi, Menggoreskan Kreasi

Bengkulu Tengah — Semangat generasi muda dalam mengenal dan melestarikan budaya daerah diwujudkan melalui kegiatan “GenBI Piawai Membatik: Melestarikan Tradisi, Menggoreskan Kreasi” yang dilaksanakan di Kampung Batik Panca Mukti, Bengkulu Tengah.

Bank Indonesia tidak hanya menjalankan tugas di bidang moneter, perbankan, dan sistem pembayaran, tetapi juga memiliki perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia melalui berbagai program sosial dan pendidikan, salah satunya melalui Program Beasiswa Bank Indonesia bagi mahasiswa berprestasi di sejumlah perguruan tinggi.

Para penerima beasiswa tersebut tergabung dalam komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI). GenBI merupakan komunitas mahasiswa penerima Beasiswa Bank Indonesia yang diarahkan untuk menjadi role model dan agent of change, sekaligus menjadi bagian dari generasi muda yang berperan dalam menyampaikan informasi Bank Indonesia kepada masyarakat serta mempersiapkan diri sebagai calon pemimpin masa depan.

Semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan membatik di Kampung Batik Panca Mukti. Meskipun kondisi cuaca kurang bersahabat dan kegiatan telah dipersiapkan sebelumnya, sekitar 35 anggota GenBI tetap hadir untuk mengikuti agenda membatik bersama.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi kesempatan bagi para peserta untuk belajar membuat batik, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenal lebih dekat sejarah, filosofi, serta nilai-nilai yang terkandung dalam budaya batik.

Sebelum praktik membatik dimulai, Founder Kampung Batik Panca Mukti terlebih dahulu memberikan pemahaman kepada peserta mengenai sejarah batik, filosofi yang terdapat di balik berbagai motif, serta makna filosofis dari istilah batik.

Salah satu filosofi yang disampaikan berkaitan dengan titik sebagai unsur dasar dalam proses membatik. Dalam pemaknaan yang diperkenalkan kepada peserta, titik dipandang sebagai simbol awal dari sebuah proses penciptaan. Filosofi tersebut kemudian dikaitkan dengan keyakinan bahwa segala proses penciptaan manusia dan alam semesta bermula dari sebuah titik, yang dimaknai berada pada lafaz Bismillahirrahmanirrahim.

Pemahaman tersebut menjadi pengantar sebelum peserta mulai menggoreskan canting di atas kain. Dengan demikian, kegiatan membatik tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis, tetapi juga mengajak peserta memahami bahwa setiap goresan memiliki proses, makna, dan nilai yang dapat menjadi bagian dari pembelajaran kehidupan.

Antusiasme para anggota GenBI terlihat saat mereka mencoba menggunakan canting dan mengaplikasikan malam pada kain. Bagi sebagian peserta, pengalaman tersebut menjadi kesempatan pertama untuk berinteraksi langsung dengan proses pembuatan batik secara tradisional.

Kegiatan GenBI Piawai Membatik menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara generasi muda dan pelaku budaya dapat menjadi sarana untuk menjaga keberlanjutan tradisi. Generasi muda tidak hanya menjadi penikmat budaya, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mengalami langsung proses penciptaan sebuah karya budaya.

Melalui kegiatan ini, semangat “Melestarikan Tradisi, Menggoreskan Kreasi” diharapkan dapat terus tumbuh di kalangan generasi muda. Sebab, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengenalnya, tetapi juga membutuhkan keterlibatan untuk mempelajari, menggunakan, mencintai, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Dari titik menjadi goresan, dari goresan menjadi karya, dan dari karya menjadi warisan budaya yang terus hidup.

Salam Canting.

Similar Posts