Doa Kanjeng Ratu Kencana melalui Simbol Batik Motif Truntum

Bengkulu Tengah — Motif batik tidak hanya menjadi unsur keindahan pada selembar kain, tetapi juga menyimpan doa, harapan, dan pesan kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah motif Truntum, motif batik yang sarat dengan filosofi tentang cinta yang tumbuh kembali dan kasih sayang yang tulus.

Motif Truntum dikenal diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana, permaisuri Sinuhun Sri Susuhunan Pakubuwana III dari Kasunanan Surakarta yang memerintah pada 1749–1788. Motif tersebut memiliki makna mendalam, yaitu cinta yang tumbuh kembali.

Dalam kisah filosofinya, motif Truntum diciptakan sebagai simbol cinta yang tulus, tanpa syarat, dan abadi. Kata tumaruntum dimaknai sebagai sesuatu yang tumbuh dan berkembang secara terus-menerus. Filosofi tersebut menggambarkan harapan agar cinta dan kasih sayang semakin lama semakin tumbuh, subur, dan mengakar.

Dalam perkembangannya, motif Truntum juga dikenal luas sebagai salah satu motif yang digunakan dalam berbagai busana dan tradisi masyarakat Indonesia. Motif ini bahkan dipadukan dengan motif Gunung Bungkuk dan Liku Sembilan, yang masing-masing membawa pemaknaan tersendiri mengenai perjalanan dan kehidupan manusia.

Motif Gunung Bungkuk dimaknai sebagai simbol tingkatan spiritual, sementara Liku Sembilan menggambarkan liku-liku perjalanan kehidupan. Perpaduan ketiga motif tersebut menghadirkan sebuah pesan bahwa kehidupan merupakan perjalanan yang penuh tahapan, tantangan, dan proses pendewasaan spiritual.

Filosofi tersebut kini tengah dikembangkan oleh para pengrajin di Kampung Batik Panca Mukti, Bengkulu Tengah. Sejumlah produk dengan perpaduan motif tersebut sedang dipersiapkan sebagai bagian dari upaya memperluas pasar Batik Sungai Lemau hingga ke Timur Tengah, kawasan yang memiliki kedekatan historis dan spiritual dengan tradisi Islam.

Pengembangan motif dan produk tersebut menjadi bagian dari langkah Batik Sungai Lemau untuk memperkenalkan batik khas Bengkulu Tengah ke pasar yang lebih luas. Tidak hanya membawa keindahan kain, tetapi juga membawa cerita, filosofi, serta doa yang terkandung di dalam setiap motif.

Pada akhirnya, pesan yang diwariskan melalui motif Truntum tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari: tentang bagaimana menjaga cinta agar terus tumbuh, memberikan kasih sayang tanpa syarat, serta menjalani kehidupan dengan keikhlasan.

Semoga cinta kita kepada keluarga dan sesama tetap tumbuh, tulus, tanpa syarat, dan abadi—seperti doa yang tersirat dalam filosofi Kanjeng Ratu Kencana melalui motif Truntum.

Salam Canting.
Selamat akhir pekan.

Similar Posts