
Bengkulu Tengah — Suasana Kampung Batik Panca Mukti terasa semakin hangat dengan hadirnya TVRI melalui program Jelita. Kehadiran tim produksi menjadi kesempatan untuk mengangkat berbagai cerita tentang aktivitas, karya, dan kehidupan para pengrajin batik.
Selama proses peliputan, berbagai sudut Kampung Batik Panca Mukti menjadi bagian dari cerita. Aktivitas mencanting, proses pewarnaan, hingga keseharian para pengrajin memperlihatkan bahwa kampung batik bukan sekadar tempat produksi kain, tetapi juga ruang tumbuhnya tradisi dan kreativitas masyarakat.
Melalui program Jelita, kisah tentang Batik Sungai Lemau dapat diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas. Bukan hanya mengenai keindahan motif, tetapi juga tentang filosofi, proses panjang, serta perjuangan para pengrajin dalam mempertahankan warisan budaya daerah.
Kehadiran media nasional seperti TVRI juga menjadi bagian penting dalam memperkuat literasi budaya. Semakin banyak masyarakat mengenal cerita di balik sebuah karya, semakin besar pula peluang untuk tumbuhnya apresiasi terhadap produk budaya lokal.
Bagi Kampung Batik Panca Mukti, setiap kunjungan media selalu menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesan bahwa batik tidak lahir dalam satu malam. Ada tangan yang bekerja, ada tradisi yang diwariskan, dan ada cerita yang terus dijaga.
Kamera mungkin hanya merekam gambar, tetapi di balik setiap gambar ada cerita tentang manusia, budaya, dan perjuangan.
Hari ini TVRI hadir, dan setiap sudut Kampung Batik Panca Mukti kembali menemukan ceritanya.
Salam Canting.
