
Bengkulu Tengah — Di tengah berlangsungnya pelatihan membatik bagi pemula di Kampung Batik Panca Mukti, Bengkulu Tengah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bengkulu melakukan kunjungan dalam rangka pendampingan dan pengembangan kapasitas usaha.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya Bank Indonesia dalam mendukung pengembangan UMKM melalui Program Pembinaan Onboarding UMKM Potensial. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem pendukung UMKM, khususnya dari sisi produksi, sekaligus mendorong berbagai kemudahan yang dapat mendukung pengembangan usaha.
Kedatangan KPw BI Bengkulu berlangsung bersamaan dengan pelatihan membatik hari pertama bagi peserta pemula yang sebelumnya telah dibuka langsung oleh Ketua Harian Dekranasda. Dalam kunjungannya, pihak Bank Indonesia melihat secara langsung proses produksi serta kualitas produk Batik Sungai Lemau yang dihasilkan oleh para pengrajin.
Selain melihat produk, pihak Bank Indonesia juga melakukan pembelian beberapa produk Batik Sungai Lemau. Transaksi tersebut dilakukan menggunakan QRIS, sebagai salah satu bentuk penerapan digitalisasi pembayaran dalam aktivitas UMKM.
Dalam kesempatan tersebut, pihak Bank Indonesia juga berdialog dengan pengelola dan pengrajin untuk mengetahui berbagai tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan usaha. Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain manajemen usaha, metode pemasaran, kapasitas produksi, serta persaingan pasar.
Dialog tersebut menjadi kesempatan bagi pengelola Kampung Batik Panca Mukti untuk menyampaikan kondisi dan tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan Batik Sungai Lemau sebagai produk budaya sekaligus produk ekonomi kreatif Bengkulu Tengah.
Salah satu tantangan yang dinilai penting adalah masih perlunya literasi mengenai batik sebagai warisan budaya. Pemahaman bahwa batik bukan sekadar produk tekstil, melainkan bagian dari warisan budaya Indonesia, perlu terus ditingkatkan baik di kalangan masyarakat maupun pemangku kepentingan.
Literasi tersebut menjadi penting karena setiap batik daerah memiliki karakter, motif, filosofi, dan proses yang menjadi bagian dari identitas budaya. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan tidak hanya melihat batik dari sisi harga dan tampilan, tetapi juga menghargai proses, kualitas, filosofi, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Kunjungan Bank Indonesia menjadi salah satu bentuk sinergi dalam memperkuat Batik Sungai Lemau, baik dari sisi kapasitas produksi maupun pengembangan ekosistem usaha. Pendampingan yang berkelanjutan diharapkan dapat membantu UMKM batik meningkatkan kualitas manajemen, memperluas pemasaran, memanfaatkan digitalisasi, dan menghadapi persaingan pasar.
Pada akhirnya, pengembangan Batik Sungai Lemau membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Pendampingan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan literasi budaya, agar peningkatan nilai ekonomi tidak menghilangkan identitas dan filosofi yang menjadi ruh dari batik itu sendiri.
Batik bukan sekadar barang yang diperjualbelikan. Di dalamnya ada proses, budaya, filosofi, dan warisan yang perlu dipahami serta dijaga bersama.
Salam Canting.
