
Bengkulu Tengah — Indigofera, yang di berbagai daerah dikenal dengan sebutan tarum atau nila, merupakan salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami berwarna biru. Sejak dahulu, tanaman ini memiliki peran penting dalam tradisi tekstil Nusantara, khususnya dalam pembuatan batik dan tenun ikat tradisional.
Warna biru yang dihasilkan dari Indigofera berasal dari zat pewarna alami yang dikenal sebagai indigo. Pemanfaatan pewarna alami ini menjadi bagian dari pengetahuan dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun di berbagai wilayah Indonesia.
Selain memiliki nilai budaya, pewarna nila juga memiliki nilai ekonomi. Pada masa lalu, hasil dari tanaman penghasil indigo bahkan menjadi salah satu komoditas perdagangan yang penting. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman pewarna alami tidak hanya memiliki fungsi dalam menghasilkan warna pada kain, tetapi juga memiliki potensi sebagai bagian dari pengembangan ekonomi masyarakat.
Penggunaan Indigofera dalam proses pewarnaan batik juga menjadi bagian dari upaya untuk menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus mendorong pemanfaatan bahan-bahan alami. Di tengah perkembangan industri fesyen dan tekstil modern, penggunaan pewarna alami dapat menjadi salah satu alternatif untuk menghadirkan produk yang memiliki karakter khas dan nilai budaya.
Bagi pengembangan batik daerah seperti Batik Sungai Lemau, pemanfaatan bahan pewarna alami dapat menjadi peluang untuk semakin memperkuat identitas dan keunikan produk. Warna yang dihasilkan tidak hanya menjadi unsur estetika, tetapi juga membawa cerita mengenai alam, tradisi, dan kekayaan pengetahuan masyarakat Nusantara.
Dari alam lahir warna, dari budaya lahir identitas. Indigofera menjadi salah satu warisan yang terus memberi warna bagi keberagaman batik Indonesia.
