
Bengkulu — Inovasi dalam pengembangan batik terus dilakukan untuk memastikan warisan budaya tetap relevan dengan perkembangan zaman. Salah satunya melalui kehadiran Batik Lesplank yang rumah produksinya berada di Kampung Batik Panca Mukti.
Batik Lesplank menjadi salah satu inovasi yang menunjukkan bahwa batik tidak hanya dapat hadir dalam bentuk pakaian atau kain, tetapi juga dapat diaplikasikan sebagai elemen yang memperindah ruang dan bangunan.
Melalui inovasi tersebut, nilai budaya batik dibawa lebih dekat ke kehidupan sehari-hari. Motif dan karakter batik dapat hadir dalam berbagai bentuk, sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan industri kreatif berbasis budaya.
Perkembangan Batik Lesplank juga menjadi bagian dari pembahasan dalam Obrolan Budaya RRI Bengkulu dengan tema “Merawat Warisan Lewat Wastra, Inovasi Budaya Lestarikan Akar Tradisi.”
Dalam pembahasan tersebut, inovasi menjadi salah satu kunci agar warisan budaya tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Tradisi perlu terus dirawat sekaligus dikembangkan melalui pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Kampung Batik Panca Mukti terus berupaya menghadirkan ruang bagi lahirnya berbagai inovasi yang tetap berpijak pada identitas budaya lokal. Batik Sungai Lemau tidak hanya diharapkan mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan menemukan bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan akar tradisinya.
Menjaga budaya bukan berarti hanya menoleh ke masa lalu. Menjaga budaya berarti membawa nilai-nilai lama berjalan bersama zaman.
Seperti sehelai batik, benang-benang yang berbeda ketika dirangkai dengan ketekunan akan menjadi karya yang indah.
Dari kain menuju ruang, dari tradisi menuju inovasi. Batik terus hidup karena terus menemukan cara untuk hadir di zaman.
Salam Canting.
