
Bengkulu Tengah — Kehadiran tamu tidak hanya dimaknai sebagai kunjungan, tetapi juga sebagai bagian dari silaturahmi, peluang berbagi pengetahuan, membuka kesempatan kerja sama, serta menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi yang dimiliki suatu daerah.
Prinsip tersebut menjadi bagian dari komitmen Kampung Batik Panca Mukti dalam menerima setiap tamu yang datang. Meskipun bertepatan dengan hari Minggu dan terdapat sejumlah undangan yang harus dihadiri, pengelola Kampung Batik Panca Mukti tetap memenuhi jadwal pertemuan yang sebelumnya telah disepakati dengan rombongan perwakilan dari dua perguruan tinggi ternama.
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka menjajaki peluang kerja sama untuk pengembangan produk dan perluasan pemasaran Batik Sungai Lemau. Pertemuan menjadi ruang untuk berdiskusi mengenai potensi kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas pengrajin, khususnya dalam pengembangan produk, peningkatan kapasitas, serta strategi pemasaran.
Salah satu hal yang menarik perhatian rombongan adalah nama “Kampung Batik Panca Mukti”. Nama tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai jumlah pengrajin yang tergabung di dalamnya serta bagaimana aktivitas produksi dijalankan.
Saat ini, Kampung Batik Panca Mukti memiliki 50 orang pengrajin yang menjadi bagian dari komunitas. Para pengrajin tersebut berasal dari beberapa kelompok dengan latar belakang pengalaman yang berbeda.
Dari jumlah tersebut, terdapat 12 orang pengrajin yang aktif melakukan produksi selama ini. Selain itu, terdapat 23 orang santri yang telah menyelesaikan pembelajaran membatik selama satu tahun ajaran. Mereka menjadi bagian dari generasi muda yang dipersiapkan untuk melanjutkan keterampilan dan tradisi membatik.
Sementara itu, 15 orang lainnya merupakan alumni pelatihan membatik tingkat pemula yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Panca Mukti. Kehadiran para alumni tersebut menambah potensi sumber daya manusia yang dapat dikembangkan untuk memperkuat kapasitas produksi di masa mendatang.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa Kampung Batik Panca Mukti tidak hanya berorientasi pada produksi saat ini, tetapi juga membangun regenerasi pengrajin melalui pendidikan dan pelatihan. Dengan demikian, keberadaan kampung batik diharapkan dapat terus berkembang melalui keterlibatan masyarakat dari berbagai kelompok dan generasi.
Pertemuan dengan perwakilan perguruan tinggi tersebut menjadi peluang untuk memperkuat ekosistem Batik Sungai Lemau. Kolaborasi dengan dunia akademik diharapkan dapat membuka ruang inovasi dalam pengembangan desain, peningkatan kualitas produk, strategi pemasaran, digitalisasi, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Hakikat tamu pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang datang dan siapa yang menerima. Setiap pertemuan dapat menjadi pintu bagi silaturahmi, ilmu, peluang, dan keberkahan.
Bagi Kampung Batik Panca Mukti, setiap tamu yang datang membawa kesempatan untuk belajar dan berbagi, sementara setiap kerja sama yang terbangun menjadi langkah baru untuk membawa Batik Sungai Lemau semakin dikenal.
50 pengrajin, satu kampung, satu semangat: menjaga tradisi, mengembangkan karya, dan membuka peluang bersama.
Salam Canting.
