Bimtek Pembuatan Lilin Malam dari Limbah Sawit Digelar di Bengkulu Tengah

Bengkulu Tengah — Upaya menghadirkan bahan baku lilin malam yang lebih terjangkau dan berkualitas bagi para pengrajin batik, khususnya di Provinsi Bengkulu, terus dikembangkan. Salah satunya melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembuatan Lilin Malam dari Limbah Sawit yang dilaksanakan pada 17–21 September 2024 di Bengkulu Tengah.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 30 peserta yang merupakan bagian dari Program Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE). Bimtek ini menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan keterampilan dan pemanfaatan potensi sumber daya yang tersedia di daerah.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai pemanfaatan limbah sawit sebagai bahan baku pembuatan lilin malam, yang merupakan salah satu material penting dalam proses pembuatan batik. Pemanfaatan limbah sawit diharapkan dapat memberikan alternatif bahan baku sekaligus meningkatkan nilai guna dari limbah perkebunan.

Selama ini, ketersediaan dan harga lilin malam menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam keberlangsungan produksi batik. Oleh karena itu, pengembangan lilin malam berbahan dasar limbah sawit diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menyediakan bahan baku yang lebih terjangkau dengan tetap memperhatikan kualitas.

Selain mendukung kebutuhan industri batik, kegiatan ini juga memiliki nilai pemberdayaan ekonomi masyarakat. Peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga berpotensi mengembangkan keterampilan tersebut menjadi kegiatan produktif yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

Ke depan, diharapkan inovasi pemanfaatan limbah sawit sebagai bahan baku lilin malam dapat terus dikembangkan dan menghasilkan produk yang memenuhi standar kualitas serta kebutuhan para pengrajin batik.

Dengan demikian, kebutuhan lilin malam yang lebih murah, berkualitas, dan mudah diperoleh bagi pengrajin batik di Provinsi Bengkulu diharapkan dapat semakin terpenuhi, sekaligus membuka peluang baru dalam pengembangan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

Dari limbah menjadi berkah, dari keterampilan menjadi peluang, dan dari masyarakat berdaya lahir ekonomi daerah yang lebih kuat.

Similar Posts