
Bengkulu Tengah — Wawancara yang dinantikan akhirnya terlaksana di Rumah Produksi Kampung Batik Panca Mukti. Seorang mahasiswa Program Magister Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) hadir untuk melakukan penelitian mengenai batik.
Pertemuan tersebut tidak hanya membahas persoalan motif dan warna. Diskusi berkembang ke berbagai aspek yang berkaitan dengan keberadaan batik, mulai dari sejarah, filosofi, Indikasi Geografis, pemberdayaan masyarakat, hingga peran batik sebagai media pendidikan karakter dan pembangunan peradaban.
Batik juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai bagaimana nilai-nilai budaya dapat disampaikan melalui karya. Setiap motif tidak hanya memiliki bentuk dan keindahan, tetapi dapat menjadi media untuk menyampaikan pesan, nilai kehidupan, dan identitas masyarakat yang melahirkannya.
Kunjungan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Kampung Batik Panca Mukti tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga berkembang sebagai ruang belajar dan sumber pengetahuan bagi masyarakat akademik.
Ada sebuah kesadaran yang lahir dari pertemuan tersebut: ilmu tidak selalu mengharuskan seseorang datang jauh-jauh ke sumbernya. Terkadang, sumber ilmu justru Allah hadirkan di tempat yang tidak pernah kita duga.
Seperti halnya filosofi batik. Setiap titik yang ditorehkan canting mungkin tampak berdiri sendiri. Namun ketika titik-titik tersebut dipertemukan dengan ketekunan dan kesabaran, lahirlah sebuah motif yang indah dan memiliki makna.
Begitu pula ilmu dan manusia. Masing-masing memiliki cerita, tetapi ketika dipertemukan dalam sebuah pertemuan, lahirlah pengetahuan baru yang dapat memberi manfaat.
Dari rumah produksi menjadi ruang penelitian. Dari sehelai kain menjadi sumber ilmu.
Salam Canting.
